I. PENDAHULUAN Setelah khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Isla...
I.
PENDAHULUAN
Setelah khilafah Abbasiyah di Baghdad
runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami
kemunduran yang sangat drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik- cabik dalam
beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa
peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan
bangsa Mongol itu. Namun, kemalangan tidak berhenti sampai di situ. Timur Lenk,
sebagaimana telah tercatat dalam sejarah menghancurkan pusat- pusat kekuasaan
Islam yang lain.
Keadaan politik umat Islam secara
keseluruahan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya
tiga kerajaan besar. Tiga kerajaann tersebut adalah Utsmani di Turki, Mughal di
India, dan Safawi di Persia. Makalah ini akan berusaha mengkaji sejarah tentang
kerajaan Shafawi yang ada di Persia.
Dalam pengkajian sejarah dan peradaban
Islam, sebenarnya ada dua dinasti yang sangat berperan dan dominan dalam
menghidupkan dan menyebarkan paham syi’ah di Persia, yaitu dinasti Buwaihi dan
dinasti Shafawi. Dinasti Buwaihi (932- 1055 M) berada pada periode klasik
Islam, sedangkan dinasti Safawi (1501- 1722 M) hidup pada masa periode
pertengahan lslam.
II.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana Asal
Mula Berdirinya Dinasti Shafawi ?
2.
Bagaimana Perkembangan
Dinasti Shafawi ?
3.
Bagaimana Kemajuan
dan Kejayaan dinasti Shafawi ?
4.
Bagaimana
Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Shafawi ?
III.
PEMBAHASAN
1.
Asal Mula Berdirinya Dinasti Shafawi.
Mirip dengan asal usul Dinasti
Murabithun dan Muwahhidun di Afrika Utara, kerajaan Shafawi berasal dari sebuah
gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azarbaijan.[1]
Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu yang hampir
bersamaan dengan berdirinya kerajaan Utsmani. Nama Safawiyah diambil dari nama
pendirinya, Safi Al- Din (1252- 1334 M) dan nama Safawi ini terus dipertahankan
sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan, masih dipertahankan sampai
gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan.[2]
Safi Al- Din yang lahir pada 1252/ 650
M, enam tahun sebelum Hulagu Khan menghancurkan Baghdad, berasal dari keturunan
yang memilh sufi sebagai jalan hidupnya.[3] Ia
keturunan Imam Syi’ah yang ke 6, Musa Al Kazhim. Gurunya bernama Syaikh Taj Al-
Din Ibrahim Zahidi (1216-1301) yang dikenal dengan julukan Zahid al- Gilani.
Kemudian Safi Al-Din diambil menantu oleh gurunya tersebut. Ia mendirikan
tarekat Safawiyah setelah ia mengantikan guru sekaligus mertuanya yang wafat
tahun 1301 M. Pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada
mulanya gerakan tasawuf Safawiyah ini bertujuan memerangi orang- orang ingkar,
dan golongan yang mereka sebut ahli- ahli bid’ah. Tarekat ini menjadi semakin
penting setelah Safi Al- Din mengubah bentuk tarekat ini dari pengajian Tasawuf
murni yang bersifat lokal menjadi gerakan keagamaan yang besar pengaruhnya di
Persia, Syiria dan Anatolia. Di luar negeri- negeri Ardabil Safi menempatkan
seorang wakil yang memimpin murid- muridnya. Wakil itu dibri gelar Khalifah.
Lama kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah berubah menjadi tentara yang
teratur, fanatik dalam kepercayaan, dan menentang setiap orang yang bermadzab
selain syi’ah.[4]
Kecenderungan memasuki dunia politik itu
mendapat wujud konkritnya pada masa kepemimpinan Juneid (1447- 1460 M). Dinasti
Safawi memperluas gerakannya dengan menambahkan kegiatan politik pada kegiatan
keagamaan. Perluasan kegiatan ini menimbulkan konflik anatar Juneid dengan
penguasa Kara Koyunlu ( domba Hitam), salah satu bangsa Turki yang berkuasa di
wilayah itu. Dalam konflik itu Juneid kalah dan diasingkan ke suatu tempat. Di
tempat baru itu ia mendapat perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, Ak koyunlu (
Domba Putih) yang juga merupakan suku bangsa Turki. Ia tinggal di Istana Uzu
Hasan, yang ketika itu menguasai sebagian besar Persia. Perlu diketahui juga
bahwa dua kerajaan Turki, yakni Kara Koyunlu yang berkuasa di bagian Timur
beraliran syi’ah sedangkan Ak koyunlu yang berkuasa di bagian Barat beraliran
Sunni.[5]
Selama dalam pengasingan Junaed tidak
tinggal diam. Ia menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi secara politik
dengan Uzun Hasan. Ia juga berhasil mempersunting salah seorang saudara
perempuan Uzun Hasan. Pada tahun 1459 M, Junaed berusaha merebut Ardabil tetapi
gagal. Tahun 1460 M, ia mencoba merebut Sircasia tetapi pasukan yang dipimpinya
dihadang oleh tentara Sirwan. Ia sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut.
Ketika itu anak Juneid bernama Haidar
masih kecil dan dalam asuhan Uzun Hasan. Karena itu, kepemimpinan gerakan
Safawi baru bisa diserahkan kepadanya secara resmi tahun 1470 M. Hubungan
Haidar dan Uzun Hazan semakin dekat setelah Haidar mengawini putri Uzun Hasan.
Dari perkawinan itu lahirlah Ismail yang kemudian hari menjadi pendiri kerajaan
Safawi di Persia. Haidar membuat perlambangan baru dari pengikut tarekatnya,
yaitu serban merah mempunyai 12 jambul, sebagi lambang dari 12 imam yang
diagungkan dalam mazhab Syi’ah Istna Asyariah.[6]
Kemenangan Ak koyunlu tahun 1476 M
terhadap Kara Koyunlu, membuat gerakan Safawi yang dipimpin oleh Haidar
dipandang sebagai rival politik oleh Ak koyunlu dalam meraih kekuasaan
selanjutnya. Padahal sebelumnya Safawi adalah sekutu Ak Koyunlu. Ak Koyunlu
berusaha melenyapkan kekutan militer dan kekuasaan Dinasti Safawi. Karena itu
ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, Ak Koyunlu
mengirim bantuan pada pasukan Sirwan, sehinga pasukan Haidar kalah dan Haidar
terbunuh.
Ali, putra dan pengganti Haidar didesak oleh bala tentaranya untuk
menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadp Ak Koyunlu. Tetapi
Ya’kub Pemimpin Ak Koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan Ali bersama
saudaranya, Ibrahim, Ismail dan Ibunya di Fars selama empat setengah tahun (
1489- 1493 M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, putra mahkota Ak Koyunlu dengan
syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupu
Rustam dapat dikalahkan. Ali bersama saudaranya kembali ke Ardabil. Akan
tetapi, tak lama kemudian Rustam berbalaik memusuhi dan menyerang Ali
bersaudara, dan Ali terbunuh dalam serangan itu pada tahun 1494 M.[7]
Kepemimpinan gerakan Safawi selanjutnya
berada di tangan Ismail, yang saat itu masih berusia tujuh tahun. Selama lima
tahun Ismail beserta pasukannya bermarkas di Gilan, mempersiapkan kekuatan dan
mengadakan hubungan dengan para pengikutnya di Azarbaijan, Syiria, Anatolia.
Pasukan yang dipersiapkannya itu dinamai Qizilbash ( Baret Merah).[8]
Di
bawah kepemimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan
mengalahkan Ak Koyunlu di Sharur, dekat Nackhcivan. Pasukan ini terus berusaha
memasuki dan menaklukan Tabriz, ibu kota ak Koyunlu dan berhasil merebut dan
mendudukinya. Di kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama
di dinasti Safawi, yang kemudian disebut Ismail I.[9]
2.
Perkembangan Dinasti Shafawi.
Pada waktu kerajaan Turki Usmani sudah
mencapai puncak kejayaannya, kerajaan Safawi di Persia masih baru berdiri.
Namun pada kenyataannya, kerajaan ini berkembang dengan cepat. Nama Safawi ini
terus di pertahankan sampai tarekat Safawiyah menjadi suatu gerakan politik dan
menjadi sebuah kerajaan yang disebut kerajaan Safawi. Dalam perkembangannya,
kerajaan Safawi sering berselisih dengan kerajaan Turki Usmani. Kerajaan Safawi
mempunyai perbedaan dari dua kerajaan besar Islam lainnya seperti kerajaan
Turki Usmani dan Mughal. Kerajaan ini menyatakan sebagai penganut Syi'ah dan
dijadikan sebagai madzhab negara. Oleh karena itu, kerajaan Safawi dianggap sebagai
peletak dasar pertama terbentuknya negara Iran dewasa ini.[10]
Ismail I berkuasa kurang lebih selam 23
tahun, yaitu antara tahun 1501- 1524 M. Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil
memperluas wilayah kekuasaanya. Ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuatan ak
Koyunlu di Amadan (1503 M), menguasai propinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan,
dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr (1505- 1507 M), Baghdad dan daerah barat daya
Persia (1508 M), Sirwan (1509 M), dan Khurasan (1510 M).[[11]
Hanya dalam waktu sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh
Persia dan bagian timur Bulan Sabit Timur ( Fortile Crescent).
Tidak sampai disitu, ambisi politik
mendorongnya untuk terus melebarkan sayap menguasai daerah-daerah lainnya,
seperti ke Turki Utsmani. Namun, Ismail bukan hanya menghadapi musuh yang
sangat kuat, tetapi juga sangat membenci golongan Syi’ah. Peperangan dengan
Turki Utsmani terjadi pada tahun 1514 M, di Chaldiran, dekat Tabriz. Karena
keunggulan organisasi militer kerajaan Utsmani, Ismail I mengalami kekalahan,
malah Turki Usmani dibawah pimpinan Sultan Salim dapat menduduki Tabriz.
Kerajaan Safawi terselamtkan dengan pulangnya Sultan Usmani ke Turki karena
terjadi perpecahan di kalangan militer Turki di Negerinya. Peperangan ini,
seperti para sejarawan menduga, bisa jadi berasal dari kebencian Sultan Salim
dan pengejaran terhadap seluruh umat muslim Syi’ah di daerah kekuasaannya.
Fanatisme Sultan Salim memaksanya membunuh 40.000 orang yang didakwa telah mengingkari
ajaran- ajaran Suni.[12]
Secara militer, Syah Ismail dan para
penerusnya harus menghadapi permusuhan sengit dari tetangga- tetangga mereka
yang sunni, Utsmaniyah di barat dan Ozbeg Turkmen di timur laut. Di tapal batas
Oxuz, para syah cukup dapat mempertahankan milik mereka meskipun kota-kota
batas batas seperti Heart, Masyhad dan Sarakh sering berpindah tangan; tapi
serangan Turkmen untuk melakukan penjarahan untuk mendapatkan budak terus
terjadi hingga abad ke 19. Utsmaniyah lebih berbahaya, ketika berada pada
puncak kekuasaan mereka pada abad ke 16; kemenangan Salim si Kejam atas
Shafawiyah di Chaldiran pada tahun 1514 merupakan suatu kemenangan logistik
bagi Utsmaniyah, dan juga merupakan peragaan keunggulan persenjataan. Tak lama
kemudian, Kurdistan, Diyarbakr, dan Baghdad jatuh ke tangan Utsmaniyah, dan
Azarbayjan sendiri sering diserbu; kemudian ibukota Shafawiyah dipindahkan ke
Tabriz ke Qazwin dan kemudian ke Ishfahan.
Kekalahan tersebut meruntuhkan
kebnaggaan dan kepercayaan diri Ismail. Akibatnya, kehidupan Ismail berubah. Ia
lebih senang menyendiri, menempuh kehidupan hura- hura dan berburu. Keadaan ini
menimbulkan dampak negative bagi Kerajaan Safawi, yaitu terjadinya persaingan
segitiga antara pemimpin suku- suku Turki, pejabat- pejabat keturunan Persia,
dan Qizilbash dalam merebut pengaruh unutk memimpin kerajaan Safawi.
Berikut urutan penguasa kerajaan Safawi :
1. Isma'il I (1501-1524 M)
2. Tahmasp I (1524-1576 M)
3. Isma'il II (1576-1577 M)
4. Muhammad Khudabanda (1577-1587 M)
5. Abbas I (1587-1628 M)
6. Safi Mirza (1628-1642 M)
7. Abbas II (1642-1667 M)
8. Sulaiman (1667-1694 M)
9. Husein I (1694-1722 M)
10. Tahmasp II (1722-1732 M)
11. Abbas III (1732-1736 M)[13]
3.
Kemajuan dan Kejayaan dinasti Shafawi.
Rasa permusuhan dengan kerajaan Usmani
terus berlangsung sepeninggalan Ismail I. Peperangan- peperangan antara dua
kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp
I ( 1524- 1576 M), Ismail II ( 1576- 1577 M), dan Muhammad Khudabanda ( 1577-
1587 M). Pada massa tiga kerajaan tersebut, kerajaan Safawi dalam keadaan lemah.[14]
Kondisi memprihatinkan ini baru bisa
diatasi setelah raja Shafawi kelima, Abbas I naik tahta. Ia memerintah dari
tahun 1588- 1628 M. Popularitas Abbas I ditopang oleh sikap keagamaannya. Ia
terkenal sebagai seorang Syi’ah yang shaleh. Sebagai bukti atas kesalehannya
adalah bahwa dia sering berziarah ketempat suci Qum dan Masyhad. Disamping itu
Ia pun melakukan perubahan struktur birokasi dalam lembaga politik keagamaaan.
Abbas 1 telah berhasil menciptakan kemajuan pesat dalam bidang keagamaan, yang membuat
ideologi Syi’ah semakin dikukuhkan. Langkah- langkah yang diambil Abbas I dalam
memulihkan kerajaan Safawi adalah:
1.
Berusaha
menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash dengan cara membentuk pasukan baru
yang anggotanya terdiri dari budak- budak, berasal dari tawanan bangsa Georgia,
Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak raja Tahmasp I.
2.
Pemindahan
ibukota ke Isfahan.
3.
Mengadakan
perjanjian damai dengan Turki Utsmani. Untuk mewujudkan perjanjian damai Abbbas
I terpaksa harus menyerahkan wilayah Azerbaijan, Georgia, dan sebgaian wilayah
Luristan. Abbas I juga berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam
Islam, yakni, Abu Bakar, Umar, dan Utsman dalam khotbah- khotbah Jum’at. Bahkan
sebagai jaminan, ia menyerahkan saudara sepupunya, Haidar Mirza sebagi sandera
di Istambul.
Usaha- usaha yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan
Shafawi kuat kembali. Kemudian Abbas I mulai memusatkan perhatiannya keluar
dengan berusaha merebut kembali wilayah- wilayah kekuasaannya yang hilang.
Tahun 1598 M, ia menyerang dan menaklukkan Heart. Dari sana ia melanjutkan
serangan merebut Marw dan Balkh. Setelah kekuasaan terbina dengan baik ia juga
berhasil mendapatkan kembali wilayah kekuasaannya dari Turki Utsmani. Rasa
permusuhan antara dua kerajaan yang berbeda aliran agama ini memang tak pernaha
padam. Abbas I mengarahkan serangan- serangannya ke wilayah kekuasaan kerajaan
Utsmani. Pada tahun 1602 M, disaat Turki Utsmani berada dibawah pimpinan Sultan
Muhammad III, pasukan Abbas I menyerang dan berhasil menguasai Tabriz, Sirwan,
dan Baghdad. Sedangkan kota- kota Nakhchivan, Erivan, Ganja, Tiflis dapat
dikuasai tahun 1605- 1606 M. Selanjutnya pada tahun 1622 M, pasukan Abbas I
berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gurmun menjadi
pelabuhan Bandar Abbas.[15]
Pada tahun 1902 M, pecahlah perang Turki dengan Austria dan tentara
Turki yang lain terpaksa pergi memadamkan pemberontakan kaum tarekat Jalaliah (
Maulawiyah) di Asia kecil. Kesempatan ini diambil oleh Syah Abbas dan berhasil
merebut kembali Tibriz dari tangan Turki. Setelah itu, dirampas juga Sirwan dan
akhirnya diambilnya Baghdad kembali yang sudah berkali- kali jatuh ke tangan
Turki.
Pemerintahan Syah Abbas I, yang hampir
sewaktu dengan penguasa besar seperti Elizabeth I dari Inggris, Philip II dari
Spanyol, Ivan si mengerikan dari Rusia dan kaisar Mughal Akbar menandai puncak
kekuasaan politik Shafawiyyah dan juga kultur serta peradaban Shafawiyyah, yang
sebagian prestasi besarnya terlihat dalam keindahan arsitektur Ishfahan yang
tiada tandingannya. Pada masa ini Utsmaniyyah disingkirkan dari Azarbyjan dan
kendali Persia atau Caucacus timur dan teluk Persia menjadi kuat. Hubungan
diplomatik dengan Eropa dibina meski rancangan persekutuan bersar Shafawiyyah-
Eropa untuk melawan Utsmaniyah tidak pernah termanifestasikan., dan tumbuh pula
kontak perdagangan secara kultural.
Pada Masa Abbas I inilah kerajaan
Shafawi mengalami masa kejayaan yang gemilang. Diantara bentuk kejayaannya
adalah :
1.
Bidang Politik.
Secara politik ia mampu mengatasi
kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas Negara dan berhasil merebut
wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh kerajaan lain pada masa sebelumnya.
Di bawah pemerintahan Abbas I Kerajaan
Safawi mencapai kekuasan politiknya yang tertinggi. Pemerintahannya merupakan
sebuah pemerintahan keluarga yang sangat dihormati dengan seorang penguasa yang
didukung oleh sejumlah pembantu, tentara administrator pribadi. Sang penguasa
saecara penuh mengendalikan birokrasi dan pengumpulan pajak, memonopoli
kegiatan industri dan penjualan bahan-bahan pakaian dan produk lainnya yang
penting, membangun sejumlah kota besar, dan memugar sejumlah tempat keramat dan
jalan-jalan sebagai ekspresi dari kepeduliannya terhadap kesejahteraan rakyatnya.
2.
Bidang Ekonomi.
Dalam bidang ekonomi terjadi
perkembangan ekonomi yang pesat setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan
Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas. Hal ini dikarenakan Bandar ini merupakan
salah satu jalur dagang antaraTimur dan Barat yang biasanya diperebutkan oleh
Belanda, Inggris dan Perancis sepenuhnya menjadi milik kerajaan Safawi. Selain
itu Safawi juga mengalami kemajuan sektor pertanian terutama didaerah Bulan sabit
subur (Fortile Crescent). Sedangkan di utara, di sekitar laut Kaspia, Shafawi
juga menjalin hubungan dagang dengan Rusia. Perdagangan di darat dari sentral
Asia, tetapi melalui kota- kota penting Shafawi, seperti Heart, Merv, Noshafur,
Tbriz dan Baghdad.[16]
3.
Bidang lmu
Pengetahuan.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, Persia dikenal
sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa dam mengembangkan ilmu
pengetahuan. Beberapa ilmuwan yang hadir di majlis istana antara lain, Baha
al-Din al- Syaerazi (generalis ilmu pengetahuan), Sadar al Din al- Syaerazi,
filosof, dan Muhammad Baqir ibn Muhammad Damad (teolog, filosof, observatory
kehidupan lebah). Dalam bidang ilmu pengetahuan, mungkin dapat dikatakan Safawi lebih mengalami kemajuan dari pada
kerajaan Mughal dan Turki Usmani.
4.
Bidang
Pembangunan Fisik dan Seni.
Dalam bidang Pembangunan Fisik dan Seni.
Para penguasa kerajaan menjadikan Isfahan menjadi kota yang sangat indah.
Disana terdapat bangunan-bangunan besar dan indah seperti masjid, rumah sakit,
sekolah, jembatan rakasasa di atas Zende Rudd dan istana Chilil Sutun.
Dalam hal seni, terdapat dalam kemajuan
pada arsitektur bangunan yang terlihat pada mesjid Shah yang dibangun pada 1611
M dan mesjid Lutf Allah yang dibangun pada 1603 M. Terlihat pula adanya
peninggalan berbentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan
tenunan, mode, tembikar, dan lain- lain. Seni lukis mulai dirintis pada masa
raja Tahmasp I. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat 162 Masjid, 48
akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum. (144-145).
4.
Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Shafawi.
Sepeninggal Abbas I, Shafawi diperintah
oleh raja-raja yang lemah dan memiliki perangai dan sifat yang buruk. Hal ini
menyebabkan rakyat kurang respon dan timbul sikap masa bodoh terhadap
pemerintahan. Raja-raja yang memerintah setelah Abbas I adalah :
Safi Mirza. Ia adalah raja yang kejam
terhadap pembesar-pembesar kerajaan. Pada pemerintahannya kota Qandahar (
sekarang termasuk wilayah Afghanistan) jatuh ketangan kerajaan Mughal dan
Baghdad direbut Turki Usmani.
Abbas II. Ia adalah raja yang suka
mabuk, minum-minuman keras sehingga jatuh sakit dan meninggal. Sepeninggalnya
kota Qandahar dapat direbut kembali oleh wazir-wazirnya.
Sulaiman. Ia juga seorang pemabuk dan
sering bertindak kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya.
Shah Husein. Ia adalah pemimpin yang
alim. Ia memberi kesempatan kepada para ulama Syi’ah yang sering memaksakan
kehendak terhadap penganut aliran sunni. Pada masa pemerintahannya terjadi
pemberontakan bangsa Afghan yang dipimpin oleh Mir Vays yang kemudian
digantikan oleh Mir Mahmud. Pada masa pemberontakan Mir Mahmud ini, kota
Qandahar lepas dari Safawi, kemudian disusul kota Isfahan. Pada 12 Oktober 1722
M Shah Husein menyerah.[17]
Tahmasp II. Dengan dukungan dari suku
Qazar Rusia, ia memproklamirkan diri sebagai raja yang berkuasa atas Persia
dengan pusat kekuasaannya di Astarabad. Kemudian ia bekerja sama dengan Nadhir
Khan untuk memerangi bangsa Afghan yang
menduduki kota Isfahan. Isfahan berhasil direbut dan Safawi kembali berdiri.
Kemudian Tahmasp II dipecat oleh Nadir Khan pada 1732 M.
Abbas III. Ia adalah pengganti Tahmasp
II yang diangkat pada saat masih kecil.
Pada 1736 M, Abbas III dilengserkan
kemudian Kerajaan safawi diambil alih oleh Nadir Khan. Dengan begitu, maka
berakhirlah kerajaan Shafawi. Hanya satu abad setelah ditinggal Abbas I, kerajaan
ini mengalami kehancuran.[18]
Faktor-faktor yang menyebabkan
berakhirnya kerajaan Shafawi :
1.
Konflik panjang
dengan kerajaan Turki Usmani. Hal ini disebabkan oleh perbedaan mazhab antara
kedua kerajaan.
2.
Adanya dekadensi
moral yang melanda sebagian para pemimpin Safawi.
3.
Pasukam Ghulam
yang dibentuk Abbas I tidak memiliki semangat perang seperti Qilzibash yang
dikarenakan pasukan tersebut tidak disiapkan secara terlatih dan tidak melalui
proses pendidikan rohani.
4.
Seringnya
terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan dikalangan keluarga
istana.[19]
IV.
KESIMPULAN
1.
Asal Mula
Berdirinya Dinasti Shafawi kerajaan ialah dari sebuah gerakan tarekat yang
berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azarbaijan.
Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu yang
hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Utsmani. Nama Safawiyah diambil
dari nama pendirinya, Safi Al- Din (1252- 1334 M)
2.
Perkembangan
Dinasti Shafawi cukup pesat yaitu Pada waktu kerajaan Turki Usmani sudah
mencapai puncak kejayaannya, kerajaan Safawi di Persia masih baru berdiri.
Namun pada kenyataannya, kerajaan ini berkembang dengan cepat. Nama Safawi ini
terus di pertahankan sampai tarekat Safawiyah menjadi suatu gerakan politik dan
menjadi sebuah kerajaan yang disebut kerajaan Safawi
3.
Kemajuan dan
Kejayaan dinasti Shafawi
4.
Kemunduran dan
Kehancuran Kerajaan Shafawi ialah Sepeninggal Abbas I, Shafawi diperintah oleh
raja-raja yang lemah dan memiliki perangai dan sifat yang buruk. Hal ini
menyebabkan rakyat kurang respon dan timbul sikap masa bodoh terhadap
pemerintahan. Akhirnya kerajaan Shafawi hancur secara sistemik.
V.
PENUTUP
Safawi adalah salah satu dari ketiga kekhilafahan atau kerajaan Islam yang
dikategorikan besar di masa sejarah Islam pertengahan. Kekhilafahn ini berpusat
di Persia (sekarang, Iran). Dinasti Safawi berasal dari gerakan tarekat
Safawiyah di Ardabil, sebuah kota di Azarbaijan. Nama Safawi diambil dari nama
pemimpin tarekat Safi al- Din. Kerajaan Safawi mempunyai perbedaan dari dua
kerajaan besar Islam lainnya seperti kerajaan Turki Usmani dan Mughal. Kerajaan
ini menyatakan sebagai penganut Syi'ah dan dijadikan sebagai madzhab Negara.
Dibanding dengan masa Turki Utsmani, masa pemerintahan Safawi tidak
terlalu lama, sekitar dua setengah abad kurang sedikit. Sekalipun dinasti
Safawi tidak setaraf dengan kemajuan yang dicapai Islam pada masa klasik,
tetapi kerajaan ini telah meberikan sumbangan kontribusi yang cukup besar dalam
bidang peradaban melalui kemajuan-kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, ekonomi,
arsitektur, kesenian dan tarekat.
[1] Moh.
Nur Hakim, Sejarah dan Peradaban Islam, ( Malang: UMM Press, 2004), hal. 141.
[2] Dr.
Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta, Raja Grafindo Persada,
2004), hal. 138
[3] Ajid,
Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada. 2004), hal. 167.
[4] Op. Cit. Dr. Badri Yatim, hal. 139
[5] Op. Cit. Ajid Thohir, hal. 170
[6] Samsul
Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Azmah, 2009), hal. 188.
[7] Op. Cit. Dr. Badri Yatim, hal. 140
[8] Op. Cit. Samsul Munir Amin, hal. 189
[9] Ibid. hal. 190
[10] Op. Cit. Dr. Badri Yatim, hal. 138.
[11] Ibid. hal. 143.
[12] Op. Cit. Samsul Munir, hal. 190
[13] Op. Cit. Moh. Nur Hakim, hal. 142
[14] Op. Cit. Dr. Badri Yatim, hal. 142.
[15] Ibid. Dr. Badri Yatim, hal. 143
[16] Ibid . Dr. Badri Yatim, hal. 144.
[17] Ibid. Dr. Badri Yatim, hal. 157
[18] Ibid. hal. 156
[19] Ibid. hal. 158

COMMENTS