BAB I PENDAHULUAN A. Latar Balakang Masalah Sebelum Islam masuk ke Indonesia, kebudayaan Hindu dan Budha tela...
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Balakang Masalah
Sebelum
Islam masuk ke Indonesia, kebudayaan Hindu dan Budha telah berkembang dan
mendarah daging selama ratusan tahun. Wayang kulit adalah salah satu wujud
kebudayaan yang telah berkembang. Sulit untuk mencabut suatu kebudayaan yang
telah tertanam dengan begitu kuat kemudian diganti dengan kebudayaan yang
bernafaskan Islam. Dalam suatu pertunjukan wayang kulit, biasanya menceritakan suatu
lakon yang mengungkapkan suatu permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat
dan cara penyelesaiannya. Lakon mempunyai maksud dan tujuan cerita yang
dimainkan dalam wayang kulit (Poerwandarminta, 1995: 552) [1].
Kesenian
wayang kulit mempunyai kelebihan dibandingkan dengan kesenian yang lainnya,
kelebihannya adalah karena wayang kulit mempunyai kedudukan dan fungsi yang
cukup menonjol dalam kehidupan masyarakat. Dimana wayang kulit dapat digunakan
sebagai media pendidikan termasuk didalamnya pendidikan agama, media penerangan
dan media hiburan.
Wayang
adalah sebuah seni pertunjukan khas Indonesia yang sudah sangat populer baik
itu di dalam atau luar pulau Jawa. Karya seni ini sudah dikenal masyarakat
sejak zaman pra sejarah. Kemudian pada saat masuknya pengaruh Hindu dan Budha,
cerita dalam wayang mulai mengadopsi kitab Mahabharata dan Ramayana yang
berasal dari India. Lalu pada masa pengaruh Islam, wayang oleh para wali
digunakan sebagai media dakwah yang tentunya dengan menyisipkan nilai-nilai
Islam. Seni pewayangan merupakan perpaduan dari berbagai seni seperti seni
musik, seni ukir, seni lukis, kesusastraan, dan falsafah ( Sri Mulyono, :1979:
6) [2].
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa hakikat wayang dan nilai-nilai apa yang
terkandung didalamnya?
2.
Bagaimana sejarah/asal-usul wayang?
3.
Bagaiamana bentuk akulturasi antara Islam
dengan kesenian wayang?
4.
Apa tujuan akulturasi antara Islam dengan
kesenian wayang?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Wayang
Wayang
adalah salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di
antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni
suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni
perlambang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wayang adalah boneka tiruan
orang dan lain sebagainya yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dan lain
sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh di pertunjukan drama
tradisional (Bali, Jawa, Sunda, dan lain sebagainya), biasanya dimainkan oleh
seseorang yang disebut dalang.[3]
Asal-usul
wayang di dunia ada dua pendapat. Pertama, bahwa wayang berasal dan lahir
pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut
dan dkemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga
merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat, diantaranya Hazeau, Brandes,
Kats, Rentse, dan Kruyt. Alasan ini cukup kuat karena seni wayang masih amat
erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia,
khususnya orang Jawa, yakni Punakawan tokoh yang terpenting dalam pewayangan,
yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong hanya dalam pewayangan Indonesia dan tidak
ada di Negara lain. Selain itu nama dan istilah teknis pewayangan semuanya
berasal dari bahasa Jawa (Kuna) dan bukan bahasa lain.
Pendapat
kedua diduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu
ke Indonesia. Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia setidaknya
pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, Raja Kahuripan (976-1012), yakni
ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmurnya. Karya sastra yang
menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak
abad X. Antara lain naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna
ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910) yang merupakan
gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga India, Walmiki. Selanjutnya, para
pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke Bahasa
Jawa Kuna, tetapi mengubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan
falsafah Jawa Kuna kedalamnya.
Wayang
sebagai satu pergelaran dan tontonan sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan
raja Airlangga. Kata “wayang” diduga berasal dari kata “wewayangan” yang
artinya bayangan. Untuk lebih menjawakan budaya sejak awal jaman Kerajaan
Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab
Ramayana dan Mahabarata. Sejak itulah cerita-cerita Panji ini kemudian lebih
banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan cerita
wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, diantaranya para Wali Sanga.
Masuknya
agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga member pengaruh besar pada
budaya wayang, terutama konsep religi dari falsafah wayang itu. Sejak zaman
Kartasura, pengubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan Mahabarata
semakin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal
silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam.
Berikut
beberapa contoh akulturasi antara kisah atau pakem pewayangan yang berdasarkan
budaya Hindu-Budha yang kemudian digabungkan dengan unsur-unsur Islam:
- Kalimah-Syahadah dipersonifikasikan dalam tokoh Puntadewa atau Samiaji sebagai saudara tua dari Pandawa, karena kalimah Syahadah memang rukun Islam yang pertama. Dalam cerita wayang, sifat-sifat Puntadewa sebagai raja (syahadat bagaikan rajanya rukun Islam) yang memiliki sikap berbudi luhur dan penuh kewibawaan. Seorang raja yang arif bijaksana, adil dalam ucapan dan perbuatan, sebagai pengejawantahan dari kalimah Syahadat yang selamanya mengilhami kearifan dan keadilan. Puntadewa memimpin empat saudaranya dengan penuh suka duka dan kasih sayang. Demikian pula kalimah Syahadat sebagai “rajanya” rukun Islam yang lainnya, karena biarpun seseorang menjalankan rukun Islam yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima, namun apabila tak menjalankan rukun Islam yang pertama maka semua amalannya akan sia-sia belaka.
- Shalat lima waktu dipersonifikasikan dalam tokoh Bima. Dalam kisah pewayangan tokoh tersebut dikenal juga sebagai Penegak Pandawa. Ia hanya dapat berdiri saja, karena memang tidak dapat duduk. Tidur dan merempun konon berdiri pula. Demikian pula sholat lima waktu selamanya harus ditegakkan. Baginya terpikul tugas penegak agama Islam dan jangan lupa sholat adalah tiang agama. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Shalat lima waktu adalah penegak agama Islam. Siapa-siapa yang menjalankannya berarti menegakan Islam”.
- Zakat dipersonifiksikan dengan tokoh ketiga dalam Pandawa yakni Arjuna. Nama Arjuna diambil dari kata “jun” yang berarti jambangan. Benda ini merupakan symbol jiwa yang jernih. Kejernihan Arjuna memancar pada jiwa dan tubuhnya. Arjuna juga merupakan seorang pecinta seni keindahan. Perasaannya amat halus dan hangat. Karena kehalusannya, Arjuna jadi sulit mengatakan “tidak”. Karena kehalusan budi pekertinya tersebut Arjuna seolah-olah mempunyai kesan lemah. Padahal semua itu dilakukan agar tidak menyakiti hati orang lain. Selain itu dalam perang yang dijalaninya Arjuna tidak terkalahkan. Maka demikianlah, zakat sebagai rukun Islam yang ketiga, karena setiap muslim berkewajiban berzakat, mengandung inti kebijaksanaan agar setiap orang Islam untuk berjuang memperoleh rizki dan kekayaan. Dalam cerita kepahlawanan Pandawa, Bima dan Arjuna paling menonjol peranannya, satu terhadap lainnya sangat memerlukan hingga menjadi dwi-tunggal yang tidak terpisahkan. Demikian pula sholat lima waktu dan zakat merupakan dua rukun Islam yang tidak terpisahkan, selamanya berjalan seiring-sejalan.
- Puasa Ramadhan dan Haji, dipersonifikasikan dalam tokoh kembar Nakula-Sadewa. Kedua tokoh ini tampil pada saat-saat tertentu saja. Demikian pula dengan puasa Ramadhan dan Haji tidak setiap hari dikerjakan. Bulan Ramadhan untuk puasa dan bulan Zulhijah, sekali dalam setahun untuk melakukan ibadah Haji. Pandawa bukanlah Pandawa tanpa si kembar Nakula dan Sadewa. Memanglah demikian, Puasa Ramadhan dan Haji lahir pada bulan tertentu, tidak demikian halnya dengan 3 rukun Islam sebelumnya, yang dilakukan setiap saat tiap hari.
Sunan
Kalijaga juga berjasa dalam menambah peralatan yang dipakai untuk pewayangan,
seperti “kelir”, “blancong” (lampu waktu pertunjukan) dan memakai pohon pisang
serta menambah laras Pelog. Demikianlah Wayang sebagai da’wah Islam telah
dirintis sejak zaman para wali. Sebagai hasilnya dalam waktu singkat penduduk
pulau Jawa banyak yang memeluk agama Islam, meskipun baru dalam tahap pengucapan
kalimah Syahadat.
Falsafah
Islam yang lain juga kita dapati dalam gunungan yang merupakan salah satu alat
yang digunakan dalam sebuah rangkaian pertunjukan Wayang. Sebelum pertunjukan
Wayang dimulai, gunungan ditaruh di tengah-tengah kelir yang merupakan titik
pusat jangkauan mata penonton. Gunungan ini merupakan gambaran simbolis dari
“Mustika Mesjid”. Jika dibalikan gunungan ini akan tampak seperti jantung
manusia, yang terdiri bilik kiri, bilik kanan, serambi kiri dan serambi kanan.
Makna yang tersirat tidak sembarangan, karena mengandung falsfah Islam. Sebagai
orang yang hidup, jantung hatinya harus selalu ada di Mesjid. Gunungan oleh
dalang selalu ditancapkan ditengah, ini mengandung arti bahwa yang harus
diperhatikan pertama-tama dalam hidup ini adalah masjidnya, atau kepentingan
beribadat kepada Allah.
Gunungan
menyerupai jantung manusia. Ia mempunyai tiga sudut. Pertama-tama manusia tidak
bisa lepas dari tiga hal, yakni Tuhan yang menurunkan adanya manusia di dunia.
Kedua, manusia dilahirkan lewat permainan asmara antara ayah dah ibu, dan
bertindak sebagai perantara dalam proses terjadinya manusia. Ketiga, dalam
proses terjadinya manusia tak bisa lepas dari anasir-anasir yang berasal dari
bumi, air, angin dan api.
Di tengah
gunungan ada gambar batang pohon yang tegak lurus ke atas sampai ujung. Inilah
gambaran Imam Rajatul Yakin. Tanpa iman yang kuat kepada Tuhan Yang Maha Esa,
kita bisa terombang ambing dalam menjalani kehidupan. Sementara lukisan emapat
cabang besar melukiskan empat jenis nafsu kita. Keempat nafsu tersebut dikenal
dengan nama supiyah, amarah (nafsu terhadap keserakahan, dalam Wayang
dipersonifikasikan sebagai Dasamuka, raja Alengka), mutmainah (pengekangan hawa
nafsu sehingga bisa bertindak bijaksana, adil, tokohnya adalah Wibisana, adik
Dasamuka) dan aluamah (nafsu yang mementingkan makan dan tidur, tokohnya
Kubakarna, adik Dasamuka juga). Untuk menuju kesempurnaan hidup, orang harus
pandai mengendalikan keempat nafsu tersebut.
Demikianlah
beberapa contoh percampuran kebudayaan atau biasa disebut akulturasi yang
terjadi antara Hindu-Budha dengan Islam yang ditemui melalui simbol-simbol yang
memiliki falsafah ke-Islaman dalam kesenian Wayang. Wayang yang kita saksikan
saat ini pun mengalami perjalanan panjang dan mengalami berbagai proses
perubahan seiring dengan berkembangnya zaman. Keberadaannya hingga saat ini
patut disyukuri –walaupun kadang kala sering terlupakan sebagai salah satu
khazanah budaya bangsa.
Perlu
diketahui pula bahwa kesenian dalam bentuk Wayang bukan hanya terdapat di
Indonesia, namun di bebarapa negara ditemukan pula kesenian yang mirip atau
sejenis, tetapi yang membedakan Wayang dengan kesenian yang sejenis lainnya
adalah falsafah kehidupan yang begitu mendalam. Disamping itu, menurut penulis,
unsur hiburan dan amanat dalam suatu pertunjukan Wayang, bisa dibilang
disajikan secara berimbang. Nilai plus dari kesenian Wayang inilah yang
penting untuk tetap terpelihara sebagai warisan budaya dari nenek moyang kita
terdahulu.
Kedatangan
agama Islam ditanah Jawa telah menimbulkan perubahan kebudayaan yang melekat
pada masyarakat Jawa. Perubahan yang terjadi bukan semata-mata karena
perombakan oleh dunia Islam, akan tetapi karena adanya toleransi dari Islam
untuk mengakulturasikan budaya yang telah ada. Dalam Sejarah telah mengatakan
bahwa akulturasi yang mendorong perkembangan Islam di Jawa adalah Wayang.
Kebudayaan
Jawa berupa kesenian pertunjukan wayang sudah ada sejak zaman dahulu
sebelum Indonesia merdeka dan merupakan kebudayaan asli Indonesia.
Pada mulanya wayang masih berhubungan dengan kepercayaan animisme yang menjadi
kepercayaan para leluhur bangsa Indonesia. Sebenarnya
wayang berasal dari kata wayangan yang berarti sumber Ilham
dalam menggambar wujud tokoh dan cerita sehingga bisa tergambar dengan jelas
dalam batin si penggambar. Pada tahun (898-910) M. Wayang sudah menjadi wayang
Purwa, Namun tetap masih ditunjukkan untuk menyembah para SangHyang seperti
yang tertulis dalam prasasti Balitung : Sigaligi MawayangBuat Hyang,
Macarita Bhima ya Kumara.
Menurut kitab Centini, tentang asal usul Wayang
Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh raja
Jayabaya dari kerajaan Mamenang/ Kediri sekitar abad ke 10, raja Jayabaya
berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya yang digoreskan diatas daun
lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari relief cerita Ramayana pada
candi Penataran di Blitar. Cerita Ramayana sangat menarik perhatiannya karena
Jayabaya termasuk penyembah dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat
dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Dewa Wisnu. Figur tokoh yang
digambarkan untuk pertama kalinya adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata
yaitu perwujudan dari dewa Wisnu.
Dalam perkembangannya, saat dunia Islam mulai
menyentuh pewayangan terjadi perubahan besar diseputar pewayangan. Raden Patah
memerintah mengubah beberapa aturan wayang yang segera dilaksanakan oleh para
Wali secara gotong royong, wayang Beber karya Prabangkara (zaman Majapahit)
segera direka ulang dibuat dari kulit kerbau yang ditipiskan, dibuat
menyamping, tangan dipanjangkan, digapit dengan penguat tanduk kerbau. Dan
disamping itu, Sunan Bonang menyusun struktur dramatikanya, Sunan Prawata
menambah tokoh raksasa dan kera dan juga menambahakan beberapa sekenario
ceritanya. Raden Patah menambahakan tokoh Gajah dan wayang Pramponan. Sunan
Kalijaga mengubah sarana pertunjukan yang awalnya dari kayu, kini terdiri dari
batang pisang, blencong, kotak wayang, cempala dan gunungan.
Sunan Kudus kebagian tugas mendalang.
’Suluk’ masih tetap dipertahankan dan ditambah dengan greget saut dan
adha-adha, namun disana sini sudah mulai dimasukkan unsur dakwah. Pada masa
Sultan Trenggana, bentuk wayang semakin dipermanis lagi. Mata, mulut, dan
telinga mulai ditatahkan. Susuhan Ratu Tunggal, pengganti Sultan Trenggana,
tidak mau kalah. Dia menciptakan model mata liyepan dan thelengan. Selain
wayang Purwa, Sang Ratu juga memunculkan wayang Gedhog, yang hanya digelar
dilingkungan dalam keraton saja. Sementara untuk konsumsi rakyat jelata, sunan
Bonang menyusun Darmawulan.
Walisanga dalam mengemban tugas luhur tersebut
adalah dalam rangka mengislamkan tanah Jawa, dalam bukunya Poerbosoebroto yang
berjudul “Wayang Lambang Ajaran Islam” banyak sekali hal-hal yang berkaitan
dengan maksud Walisanga tadi. Oleh Walisanga, wayang diubah menjadi media
dakwah Islam. Akidah Islam disiarakan melalui mitologi Hindhu. Hal-hal yang
berkaitan dengan dengan dewa (hyang Sang Hyang) yang menjadi sesembahan
masyarakat waktu itu, dikait-kaitkan dengan cerita nabi. Mitologi Hindhu
berpegang pada dewa sebagai sesembahannya. Karena itu, Walisanga memadukan cerita-cerita
silsilah wayang yang diganti dengan silsilah Nabi.
Cerita silsilah wayang digarap dan diurutkan
keatas sampai pada nabi Adam. Metode dakwah Walisanga lewat mitologi Hindu,
sangat tepat dengan kontek budaya masyarakat Jawa waktu itu (abad 15). Untuk
menyiarkan akidah Islam, Walisanga memlilih cara atau metode Islamisasi Jawa
disebut ‘de dewanisasi’ cerita (lebih tepatnya de-sakralisasi Dewa
/ Tuhan Hindu). Cerita yang berhubungan dengan dewa-dewa diubah supaya akidah
Islam bisa masuk dalam hati sanubari masyarakat. Hal ini dilakukan karena
adanya dorongan untuk menyebarkan Islam di jawa secara halus dan tidak terkesan
memaksa. Perkembangan yang terjadi sampai sekarang ini masih tersisa bahwa
perjuangan para Walisanga telah mengilhami ketolerensian agama Islam
dengan budaya setempat.
E. Tujuan
Akulturasi Islam dengan Kesenian Wayang
Kesenian wayang kulit telah mendarah daging
pada masyarakat Indonesia (khususnya Jawa dan Bali) sehingga sulit untuk
menghilangkan dan menggantinya dengan kebudayaan Islam. Karena kesulitan untuk
menghilangkan sesuatu yang telah melekat di dalam hati, maka para Wali Songo
tidak kehilangan akal. Agar dakwah yang mereka lakukan berjalan lancar, maka
salah satu cara yang ditempuhnya adalah dengan cara memasukkan ajaran Islam ke
dalam pertunjukan wayang kulit.
Sunan Kalijaga mementaskan Wayang kulit dengan
cerita dan dialog sekitar Tasawuf dan akhlaqul karimah, untuk melemahkan
masyarakat yang pada waktu itu beragama Hindu dan Budha yang ajarannya berpusat
pada kebatinan. Pada masa itu saat Majapahit masih cukup berkuasa, Sunan
Kalijaga berusaha memasukan unsur-unsur Islam yang kompleks dalam kisah
pewayangan yang sudah mendarah daging di kalangan penduduk Majapahit. Dengan melakonkan
cerita Mahabarata, para mubaligh dapat memasukkan unsur-unsur sendi kepercayaan
atau aqidah, ibadah dan juga akhlaqul-karimah. Sehingga pada masa itu wayang
dijadikan sebuah alat metode dakwah Islam oleh para wali dan mubaligh dengan
tujuan supaya pengikut agama Islam bertambah banyak khususnya di wilayah Jawa.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Wayang merupakan kesenian tradisional suku Jawa yang berasal dari agama
Hindu India. Berdasarkan asal-usul wayang, ada dua pendapat, pertama bahwa
wayang berasal dari Pulau Jawa khususnya Jawa Timur, pendapat yang kedua bahwa
wayang berasal dari India dibawa ke Pulau jawa oleh agama Hindu. Wayang
berasal dari cerita Ramayana dan Mahabarata dn menjadi pertunjukkan dan
tontonan, namun seiring dengan beiringan masuknya Islam ke Jawa, sebagai bentuk
dakwah Islam di Jawa wayang menjadi salah satu bentuk akulturasinya.
Bentuk akulturasinya pada tokoh puntadewa, bima, arjuna, nakula-sadewa, dan
yang lain. Nilai pergelaran wayang diisyaratkan dengan nilai-nilai islam oleh
para walisanga. Adapun beberapa bentuk akulturasi Islam dengan kesenian wayang
diantaranya; Kalimah-Syahadah dipersonifikasikan dalam tokoh Puntadewa atau
Samiaji sebagai saudara tua dari Pandawa, shalat lima waktu dipersonifikasikan
dalam tokoh Bima, zakat dipersonifiksikan dengan tokoh ketiga dalam Pandawa
yakni Arjuna. puasa Ramadhan dan Haji, dipersonifikasikan dalam tokoh kembar
Nakula-Sadewa.
Akulturasi
yang dilakukan oleh walisanga dalam pagelaran wayang di daerah Jawa tidak lepas
dari misi dakwah yang diemban oleh Sunan Kalijaga, dengan melihat realitas
sosial pada saat itu yang menunjukan kentalnya kesenian wayang dalam kehidupan
masyarakat, mendorong sunan Kalijaga untuk menjadikan wayang sebagai salah satu
metode dalam dakwahnya, yaitu dengan memasukan ajaran-ajaran maupun nilai-nilai
Islam seperti aqidah, akhlak, dan ritual-ritual peribadatan dalam Islam.
DAFTAR PUSTAKA
ejournal.stain.pwt.ac.id
(diakses pada 24 Mei 2012, pukul 15.25 WIB)
Sri
Mulyono. 1979. Wayang dan Karakter Manusia. Jakarta:Gunung Agung
Tim
penyusun Sena Wangi. 1999. Ensiklopedia Wayang. Jakarta:
Sena Wangi
Tim
Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005. Jakarta: Departemen
Pendidikan Dan Kebudayaan.
http://mediaonlinenews.com/dunia/asal-usul-wayang-kulit (dikases
pada Minggu, 27 Mei 2012 pukul 09.57 WIB)
http://hgbudiman.wordpress.com/2010/11/12/wayang-dawah-akulturasi-di-masa-madya/ (diakses
pada Minggu, 27 Mei 2012 pukul 09.53 WIB.)
[3] Tim
Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 2005), hal. 1010
[4] http://mediaonlinenews.com/dunia/asal-usul-wayang-kulit dikases
pada Minggu, 27 Mei 2012 pukul 09.57 WIB
[5] http://hgbudiman.wordpress.com/2010/11/12/wayang-dawah-akulturasi-di-masa-madya/ diakses
pada Minggu, 27 Mei 2012 pukul 09.53 WIB.
[6] http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/sejarah-wali-songo.html diakses
pada Minggu, 27 Mei 2012 pukul 09.55 WIB
COMMENTS